HomeIndonesian

MENGAPA KETUPAT MENJADI MAKANAN KHAS LEBARAN? SIMAK ALASANNYA

MENGAPA KETUPAT MENJADI MAKANAN KHAS LEBARAN? SIMAK ALASANNYA

KELUARGA KERATON TAMPIL DALAM PAMERAN BATIK DALAM RANGKA MENJAGA EKSISTENSI KEBUDAYAAN BATIK MANGKUNEGARA
150 WNI AKAN HADIRI ACARA HARI PAHLAWAN YANG AKAN DIADAKAN PEDULI BMI DI PAK WAI PADA 3 DESEMBER
TURBOJET BERENCANA TAMBAHKAN JUMLAH LAYANAN FERI ANTARA MAKAU DAN HONG KONG

Ketupat, yakni kukusan beras yang dibungkus dengan anyaman janur kuning adalah makanan khas Lebaran khususnya di masyarakat Asia tenggara seperti masyarakat Indonesia yang mayoritas bersuku melayu. 

Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu dari wali songo yang menyebarkan ajaran agama Islam di Indonesia, menggunakan ketupat sebagai media dakwahnya pada abad ke-15 sampai 16, berdasarkan laporan sejumlah media di Indonesia. Bersamaan dengan masa ini, pada jaman pemerintahan Raden Patah di kerajaan Demak di abad ke-15, ketupat pun menjadi simbol perayaan hari raya umat Islam.  

Masyarakat Jawa dan Sunda menyebut ketupat juga dengan sebutan kupat atau ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan, sesuai dengan tradisi bermaaf-maafan saat Lebaran. 

Ketupat juga memiliki arti laku papat atau empat laku yang dilambangkan oleh empat sisi yang masing-masing memiliki makna berbeda-beda. Sisi pertama disebut Lebaran dari asal kata lebar yang berarti pintu ampunan terbuka lebar untuk orang lain. Hal ini ditandai dengan kegiatan saling memaafkan pada hari lebaran. 

Sisi kedua disebut luberan dari kata dasar luber yang artinya kita memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan ditandai dengan zakat fitrah yakni kegiatan membagi beras hasil sedekah umat Islam kepada fakir miskin (mustahiq) yang membutuhkan. 

Sisi ketiga adalah leburan (lebur) dimana umat Islam melakukan upaya untuk melebur dosa selama setahun dengan ibadah puasa, sedekah dan ibadah-ibadah wajib dan sunnah selama satu bulan penuh. 

Yang terakhir, sisi keempat, adalah laburan yang artinya umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa kembali suci seperti bayi (kembali ke fitrah), suci lahir dan bathin. 

Itulah sebabnya saat Lebaran kita saling memaafkan dengan mengucapkan “Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Bathin”. (Pandu Tirtayasa) 

Foto: Mufid Majnun, Farhan Azam

COMMENTS

DISQUS: 0