Sembilan orang terduga pelaku diamankan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera barat atas perusakan rumah doa dan tempat pendidikan agama Kristen di Padang baru-baru ini, berdasarkan laporan sejumlah media di Indonesia.
Adapun insiden yang dimaksud terekam dalam video yang sekarang telah menjadi viral. Dalam video yang dimaksud tampak sekelompok masyarakat yang merusak tempat pendidikan Kristen yang dimaksud.
Dalam hal ini, Wali Kota Padang Fadly Amran menyebut insiden perusakan yang dimaksud hanyalah sebuah kesalahpahaman warga dan bukan terkait SARA, menurut laporan berbagai media di Indonesia.
Komentar ini pun telah menuai banyak kritik dan kecaman dari berbagai lapisan masyarakat di Indonesia, serta berbagai komunitas WNI di luar negeri, yang mengikuti perkembangan negara dari luar Indonesia.
Dalam video viral yang dimaksud, sejumlah warga melempar kaca jendela dengan batu dan kayu yang berdampak pada rusaknya rumah doa milik Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Anugerah Padang tersebut.
Fadly diketahui turun langsung ke lokasi kejadian dan memediasi pertemuan antara pihak GKSI, warga, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Padang dan kepolisian. Adapun proses mediasi dilakukan di kantor Camat Koto Tangah Ketua FKUB Padang, Salmadanis, yang menyatakan awalnya pendeta mendatangi para siswa Kristen dari rumah ke rumah untuk memberikan pendidikan agama, namun akhir-akhir ini pertemuan hanya dipusatkan di satu rumah saja.
Menurut Salmadanis kesalahpahaman karena tidak adanya pemberitahuan di masyarakat sehingga masyarakat mengira rumah tersebut adalah tempat ibadah bukan tempat Pendidikan.
Pendeta GKSI F. Dachi menyatakan saat kejadian berlangsung puluhan jemaat sedang berdoa, dan para siswa tengah mengikuti pelajaran. Saat itu datang ketua RW dan RT memanggil untuk berbicara di belakang rumah.
“Namun di depan warga ramai datang dan melakukan perusakan,” ujar Dachi dikutip dari berbagai media. Selain kaca dipecahkan, warga juga memutus aliran listrik dan merusak beberapa peralatan. Orang-orang yang berada di rumah tersebut yang diketahui mayoritas perempuan dan anak-anak histeris berlari keluar rumah.
Sementara itu, dua anak diberitakan sejumlah media di Indonesia mengalami luka, dan seluruh peserta mengalami trauma psikis, menyebabkan berbagai kalangan mengecam insiden yang dimaksud sebagai bentuk kegagalan negara dalam melindungi hak dasar warganya dan menjaga kebhinekaan Indonesia. (Pandu Tirtayasa/Gilbert Humphrey)

COMMENTS