Generasi pelajar di Indonesia saat ini banyak yang tidak dapat membaca jam analog yang disebabkan banyaknya anak-anak di era digital sekarang ini melihat waktu dalam bentuk digital yang hanya berupa angka-angka saja.
Disebuah sekolah Dasar di daerah Bogor ada seorang siswa berinisial F berusia 15 tahun, ketika diminta gurunya untuk membaca jam analog mengaku kebingungan membacanya. Siswa F menyampaikan bahwa di rumahnya tidak ada jam dinding, dan untuk mengetahui waktu kedua orang tuanya melihat jam melalui ponsel mereka.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menmandang banyaknya anak Indonesia yang tidak mampu membaca jam analog akibat dari rendahnya kemampuan numerasi. Untuk menangani fenomena ini, ia pun beberapa waktu lalu mengadakan peluncuran Gerakan Numerasi Nasional, bertempat di SDN Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta Barat.
Sang menteri mengajak seluruh pihak, khususnya pihak sekolah dan orang tua agar menguatkan penanaman kemampuan numerasi dalam kehidupan sehari-hari kepada anak-anak. Ia berharap kegiatan numerasi tersebut tidak hanya diselenggarakan di sekolah, namun juga di rumah.
Pada saat yang sama, Direktur Jenderal Guru Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen Nunuk Suryani menyatakan bahwa peluncuran ini juga dibarengi dengan peresmian Taman Numerasi di 140 sekolah dari jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, hingga SMA, yang tersebar di 16 provinsi dan 13 desa di seluruh Indonesia.
Selain itu, Nunuk dengan timnya juga telah menyusun sederet kegiatan sebagai bagian dari Gerakan Numerasi Nasional yang memberikan pembekalan bagi guru, hingga penerbitan buku panduan numerasi bagi orang tua. (Pantu Tirtayasa)
Foto: Ocean Ng

COMMENTS