Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun, KB, yang duduk di bangku kelas 2 SD di Riau harus meregang nyawa pada 26 Mei lalu setelah dirinya mengalami tindakan perundungan atau bully yang dilakukan beberapa kakak kelasnya karena perbedaan suku dan agama, berdasarkan laporan sejumlah media di Indonesia.
Menurut laporan yang ada, KB sudah sering dibully oleh kakak kelasnya sejak seminggu sebelum ia meninggal, sebelum akhirnya pemukulan terhadap KB yang dilakukan lima orang kakak kelasnya tersebut berakhir fatal.
Ayah KB, Gimson Beni Butar-Butar awalnya menganggap perselisihan yang dialami KB adalah hal yang lumrah sebagaimana anak-anak bermain. Pada 19 Mei lalu KB pulang lebih awal dengan dalih ada acara di sekolahnya sehingga para siswa dipulangkan lebih awal.
Kejadian yang sama kembali terulang di keesokan harinya, KB kembali pulang lebih awal dari pada jadwal yang seharusnya, sampai akhirnya ibu KB menjelaskan kepada ayahnya bahwa KB pulang lebih awal karena sakit dan sudah diizinkan oleh pihak sekolah. Pada malam itu kondisi Kesehatan KB semakin menurun dan ia mulai mengeluh rasa sakit pada pinggangnya.
Korban pun bolak-balik ke kamar mandi, hingga demam yang tinggi. Sementara itu, Gimson juga sempat melihat di perut bagian bawah KB mengalami pembengkakkan.
Pada tanggal 21 Mei, Gimson mendatangi rumah Rio teman sekelas KB, dan dari cerita Rio ayah korban akhirnya mengetahui kalau KB mengalami bengkak di bagian bawah perutnya oleh karena dianiaya limar orang kakak kelasnya.
Hal ini pun disampaikan Gimson kepada wali kelas KB, dan wali kelasnya menjanjikan bahwa keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 22 Mei, pihak sekolah akan memanggil orangtua dari lima orang kakak kelas yang diduga menganiaya KB, namun ternyata pertemuan itu tidak terjadi.
Pada tanggal 23 Mei Gimson datang ke sekolah dan bertemu dengan DR, salah satu dari kelima kakak kelas yang yang dimaksud, dan DR membantah telah menendang bagian bawah perut KB dengan lutut dan mengatakan dia hanya menumbuk bagian belakang KB sedangkan yang menendang bagian bawah perut KB adalah HM.
Saat Gimson mendatangi rumah HM, orangtua HM tidak terima dengan apa yang disampaikan Gimson. Menurut mereka ada juga pelaku lain yang terlibat dalam kejadian ini.
Sementara itu, semakin hari keadaan KB semakin memburuk sehingga akhirnya pada 25 Mei lalu KB dilarikan ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi dan sakit pada perutnya.
Dikarenakan rumah sakit tersebut tidak memiliki dokter spesialis melainkan hanya dokter umum yang berjaga, KB pun dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara di Pematang Reba untuk mendapatkan perawatan lebih baik. Namun bukannya membaik, keadaan KB semakin parah.
KB mengalami pembengkakan di ulu hati yang membuat ia sesak napas dan kejang-kejang. Ia pun akhirnya meninggal dunia pada tanggal 26 Mei pukul 02:10 waktu setempat.
Berdasarkan laporan otopsi, yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari, Inhu dengan berkoordinasi dengan tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau di Pekanbaru, korban didapati alami kerusakan jaringan usus buntu.
Karena kelima terduga pelaku masih di bawah umur – masing masing berinisial HM (12) dan RK (13) yang duduk di kelas 6 SD serta MJ (11), DR (11) dan NN (13) yang duduk di kelas 5 – maka penanganan kasus ini dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Inhu, berdasarkan laporan Kompas.com. (Pandu Tirtayasa)
Foto: Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid

COMMENTS